Selasa, 29 Januari 2013

I Love You Gundaling

    
    Aku suka panorama hutan dan gunung. Warna-warna hijau yang cerah dan udara sejuk itu sungguh memberikan sensasi khas. Salah satu tempat yang menawarkan keadaan demikian adalah Berastagi, yang berada di Kabupaten Karo Sumatera Utara.

    Di Berastagi, terdapat satu kawasan wisata yang terkenal, tak lain dan tak bukan adalah Bukit Gundaling. Aku sebelumnya sama sekali belum pernah ke tempat ini. Padahal, jaraknya tak begitu jauh dari kota Medan. Aku pun mengajak teman-teman kampusku : Rudi, Fakhrul dan Imam, untuk pergi ke sana. Maka, pada hari Senin 28 Januari 2013 lalu kami berwisata ke sana. Dengan mengendarai Kuda besi (Sepeda Motor), kami pun berangkat.

     Untuk masuk di kawasan wisata ini, kita harus membayar 8 ribu Rupiah untuk  masuk dan 2 ribu Rupiah untuk parkir. Semua pembayaran adalah untuk tiap sepeda motor. Setelah membayar, motor kita ditempeli stiker dengan tiga warna (hijau, kuning, biru) sebagai penanda bahwa kita sudah bayar. 

      Dari atas bukit Gundaling ini, kita akan disuguhi panorama perbukitan hijau yang sungguh memesona. Kita juga bisa melihat gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. 

Aku dan Sinabung


      Hasratku untuk ke sini akhirnya terpenuhi juga. Perjalanan wisata ini membuatku semakin bersyukur dan kagum akan ciptaan Allah SWT. Aku berencana, setelah ini aku akan mendaki gunung Sinabung. Namun, kapan tepatnya aku belum tahu. Mudah-mudahan dapat terlaksana.

       Nah, selain dapat menikmati panorama Gundaling, kita juga bisa berkeliling bukit dengan mengendarai kuda. Ya, ini bukan kuda besi melainkan Kuda Asli. Hanya dengan 25 ribu Rupiah, kita bisa berkeliling sepanjang rute sekitar 2 km. Selain itu, kita juga bisa berfoto bersama kuda. Sang pawang kuda akan dengan senang hati memotret kita.

Aku mau bawa pulang kuda ini, sebagai pengganti Kuda Besi
supaya hemat BBM dan enggak Polusi. Hehe

   
Kelihatan siapa yang paling ganteng kan?

          Itulah perjalananku, Rudi, Fakhrul, dan Imam. Bagiku, perjalanan ini sangat memuaskan untuk mengawali liburan semester ini. Semoga di lain waktu aku bisa ke sini lagi. I love you, Gundaling !
      

     

Sayyid Quthb, Sang Pejuang Pena



“Kata-kata takkan pernah menyentuh hati dan menggerakkan jiwa manusia, kecuali kata-kata yang ditulis dengan tinta darah. Kata-kata seperti inilah yang akan selalu hidup dalam sanubari manusia.”

          Sayyid Quthb adalah anak kedua dari empat bersaudara yang dilahirkan dari rahim istri kedua Quthb bin Ibrahim. Nama lengkapnya Sayyid Qutb Ibrahim Husain Syadzili. Ia lahir pada 9 oktober 1906 di Musya, Provinsi Asyut, Mesir. Tiga saudaranya yang lain adalah Nafisah, Aminah, dan Muhammad Quthb. Sejak kecil dia gemar membaca, terutama membaca Al-Quran. Sejak umur delapan tahun dia sudah hapal Al-Quran dan sering membacakan koran kepada masyarakat yang datang ke rumahnya, jika ayahnya-yang bekerja sebagai kepala desa-berhalangan.

Sayyid Qutb terkenal sebagai seorang penulis buku. Ia telah menghasilkan lebih dari dua puluh buah karya dalam berbagai bidang di antaranya karya sastra dan buku-buku keagamaan. Sayyid Qutb pernah berkarir sebagai pengawas pendidikan di Departemen Pendidikan Mesir. Ia bekerja sangat profesional dan berprestasi tinggi hingga dikirim pemerintah Mesir untuk menuntut ilmu di Amerika. Ia menuntut ilmu di tiga perguruan tinggi yaitu Wilson’s Teacher’s College ( Washington) , Greeley College (Colorado) dan Stanford University (California). Tak cukup sampai disitu, ia juga berkelana ke Italia, Inggris dan Swiss serta negara eropa lainnya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. 

Dalam bidang kepenulisan, Sayyid Quthb memulai dari tulisan fiksi, berupa sastra dan kritik sastra. Sepulang dari Amerika, ia hijrah ke nonfiksi dengan menulis artikel ilmiah populer dengan kajian keislaman, politik, sosial, dan budaya. Tulisannya tersebar di  berbagai media massa. Beberapa koran dan majalah yang sering memuat tulisannya : Al-Balagh, Kub As-Syarq, Al-Hayat, Al-Jadid, Al-Usbu, dan lain-lain. Di bidang politik, sejak masih di kampung, ia sudah aktif diparpol karena ayahnya aktif di Hizbul Wathany. Rumah mereka pun dijadikan markas pergerakan untuk menggalang kekuatan revolusi.

Awal dekade 1940-an, satu era baru telah mulai terjadi dalam kehidupan Sayyid Qutb, sebagai masa pencerahan kesadarannya terhadap Islam. Dalam karya tulisnya, ia mulai menulis beberapa seri “At-Taswir Fanni Fil Qur’an” pada tahun 1939. Tulisan ini mengupas indahnya seni yang terdapat di dalam ayat-ayat al-Qur’an. Pada tahun 1945 ia menulis sebuah kitab bertajuk “Masyahidul Qiamah Fil Qur’an” yang isinya menggambarkan peristiwa hari kiamat dalam Al-Qur`an. Dan pada tahun 1948, Sayyid Qutb menghasilkan sebuah buku berjudul “Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah Fil Islam” atau Keadilan Sosial dalam Islam. Dalam kitab ini, ia tegas menyatakan bahwa keadilan masyarakat sejati hanya akan tercapai bila masyarakat menerapkan sistem Islam.

Fase terakhir perjalanan Sayyid Qutb berawal pada tahun 1951, saat ia mulai bergabung dengan Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimun, sampai wafatnya di tiang gantungan tahun 1966. Baginya, rentang masa itu sangat penting dan karenanya ia pernah mengatakan bahwa tahun 1951 adalah tahun kelahirannya. Sayyid Qutb bergabung bersama Al-Ikhwan Al-Muslmun, dua tahun setelah wafatnya Imam Hassan al-Banna yang merupakan pendiri Al-Ikhwan, pada tahun 1949. Mereka tidak pernah bertemu muka, meski dilahirkan di tahun yang sama 1906, dan dididik di tempat yang sama, di Darul Ulum.

Beberapa karya Sayyid Qutb selanjutnya adalah: Haaza ad Din, Al-Musta qbal li hadza ad diin, khashaish tashawwur al-Islami, ma’alim fi thariq, dan tafsir fii zilali al-Qur`an. Pesan utama yang ditekankan Qutb di dalam tulisan-tulisannya adalah konsep al-Tauhid dari sudut al-Uluhiyyah. Menurutnya inti dari Tauhid Uluhiyyah adalah hak Allah dari sudut al-Hakimiyyah dan al-Tasyri’ (pembuatan peraturan). Dan karenanya, menurut Qutb ikrar Lailaha ilalLah adalah pernyataan revolusi terhadap seluruh kedaulatan yang berkuasa di atas muka bumi-Nya. Maka seluruhnya itu mesti dikembalikan kepada hak-Nya.

Pada 13 Januari 1954, Revolusi Mesir melarang Al-Ikhwan Al-Muslimun dan para pimpinannya ditangkap karena dituduh sedang kudeta. Tanpa bukti yang jelas, tujuh orang pimpinan tertinggi Al-Ikhwan dijatuhi hukuman mati, termasuk Hasan Hudhaibi, Abdul Qadir Audah dan Syeikh Muhammad Farghali, ketua sukarelawan Mujahidin Ikhwan al-Muslimin di dalam Perang Suez 1948. Tapi hukuman terhadap Hasan Hudhaibi dirubah menjadi penjara seumur hidup dan Sayyid Qutb dihukum penjara lima belas tahun dengan kerja berat.

Pada tahun 1964, Sayyid Qutb telah dibebaskan atas permintaan pribadi Abdul Salam Arif, Presiden Iraq. Tapi Pemerintahan Revolusi Mesir belum menerima pembebasan tersebut. Setelah Presiden Abdul Salam Arif meninggal dalam satu musibah pesawat udara, Qutb ditangkap lagi pada tahun berikutnya. Alasannya adalah karena Qutb dituduh kembali merancang kudeta. Selain itu, Mahkamah Revolusi merujuk pada buku-buku Sayyid Quthb terutama Maalim Fi At Thariiq, yang mendasari pernyataan seruan revolusi terhadap seluruh kedaulatan yang tidak berdasarkan Syari’at Allah.

Sayyid Qutb ditahan bersama seluruh anggota keluarganya. Sebelum hukuman gantung dilaksanakan, Presiden Gamal Nasser menghantar utusan menemui Sayyid Qutb. Melalui utusan itu Presiden Gamal Nasser meminta agar Sayyid Qutb menulis pernyataan meminta ampun agar ia dibebaskan. Tapi Sayyid Qutb dengan tegas menjawab; “Sungguh, jari telunjuk yang saya pakai bersyahadat setiap salat, takkan pernah saya gunakan untuk menulis perjanjian berdasarkan hukum Taghu, meskipun satu huruf!”

Pagi hari Senin, 29 Agustus 1966, Sayyid Qutb digantung bersama-sama sahabat seperjuangannya, Muhamad Yusuf Hawwash dan Abdul Fatah Ismail. Dunia Islam pun kehilangan salah satu pejuangnya yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk membela tauhid. 

Meski dunia internasional mengecam pemerintah Mesir, hukuman mati tetap dilaksanakan. Sebelum menghadapi ekskusinya, Sayyid Qutb sempat menuliskan tulisan sederhana, tentang pertanyaan dan pembelaannya. Kini tulisan tersebut telah dibukukan dengan judul, “Mengapa Saya Dihukum Mati” (limadza a’damuni). Sebuah pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab oleh pemerintahan Mesir hingga kini.

Ada sebuah kisah menarik menjelang eksekusi mati yang kejam tersebut. Kisah ini dituturkan oleh dua orang polisi yang mengawal proses eksekusi. Syahdan, pada malam menjelang dihukum gantung, seorang Syaikh (yang diutus pemerintah) datang untuk menasehati Sayyid Quthb) mengatakan:



“Wahai Sayyid Quthb, perbanyaklah mengucap La Ilaha Illallah…”

Sayyid Quthb menjawab:

“Kami mengorbankan diri dan mati demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illallah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha Illallah“.

Menunggu Rahasia Malam


Malam menggayut
dan gema kebesaran menyambut

Diri masih menanti jawaban atas semua penantian

Jiwa mencoba bersabar, tetapi raga ini kian bergetar

Detik-detik adalah mozaik harapan,
yang mungkin akan utuh menjelma keajaiban

Rasa-rasa itu menyatu,
bak untaian beludru

Setiap nafas adalah embusan keikhlasan,
yang tertahan

Haruskah ada kenapa?

Kenapa harus ada tanda tanya?

Pantaskah semua ini dipertanyakan,
ketika tak perlu lagi ada tanda tanya,
ketika syukur dan kepasrahan adalah niscaya?

Tak perlu kata seandainya, dan jangan pernah berkata kalau saja.

Cahaya,
kini tak hendak berpantul pada hati yang berkaca-kaca.

Sejuta Semangat dari Noah dan Peterpan


"Satu Hati" untuk kita, berikan makna "Yang Terdalam" untuk sebuah perjuangan, kumpulkan segala daya untuk "melawan dunia"

bersama "Sahabat", kita mulai melangkah mencari cahaya "Di Balik awan",
walaupun mungkin "Langit Tak Mendengar", kita akan terus maju.

"Aku" , dirimu, dan "Semua Tentang Kita", menyatu dalam semangat untuk meraih "Bintang di Surga"

dalam "Mimpi yang Sempurna", kita bisa "Bebas", sembari "Menunggu Pagi" untuk sebuah kemenangan, di dalam mahligai "Taman Langit" yang indah mempesona.

"Lihat Langkahku" wahai kawan, akan "Kukatakan Dengan Indah" sebuah bait rindu padamu

untuk melihat kilas "Masa Lalu Tertinggal" ,yang menggelayut "Di Belakangku"
yang akan "Tertinggalkan waktu",
"Dan Hilang"

tetapi biarlah semua itu berlalu tanpa meninggalkan "Dilema Besar" yang bisa "Membebaniku"

karena tak ada gunanya mengenang luka yang melemahkan impian kita.
kita bisa terus berlari, meninggalkan "Dunia Yang Terlupa"

itu bukanlah "Khayalan Tingkat Tinggi",
namun sebuah impian yang berada "Di atas Normal"
yang akan menjadi realita,
jika kita tetap berusaha dengan sekuat tenaga dan daya

mari "Kita Tertawa"
menatap masa depan yang gemilang

bukalah semua "Topeng" kemunafikan
agar hati nurani kita bersih, murni, dan hakiki

karena kita tahu,

"Walau Habis Terang"

"Tak Ada Yang Abadi" di dunia fana ini...








Kisah Empat Rumah

Ini adalah kisahku di hari Ahad, 4 November 2012, mulai dari pagi hari yang basah dengan gerimis, pertemuan Forum Lingkar Pena di Rumah Cahaya, hingga berdiskusi dengan Kang Abik di kampus UMN Medan.


Rumahku, Jam 6 Pagi

Takkan selamanya
Tanganku menggenggammu
Takkan selamanya
Raga ini menjagamu

Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti

Tak ada yang abadi

Gerimis meringis. Butiran-butiran bening itu menghentak ritmis. Udara dingin pagi ini membuat kulitku terkikis. Jika tak ingat jadwal hari ini, badan ini pastilah sudah meringkuk terbalut selimut tipis. Kupaksakan jiwa dan raga ini untuk bangkit, melawan malas yang anarkis. Ah, lebih baik aku minum teh manis.

Dari luar, tiba-tiba samar kudengar suara bergetar. Ada sesenggukan yang menyebar. Rasa penasaranku pun keluar. Kubuka telingaku lebih lebar. Ada apa gerangan ? Tak sadar, tanganku sudah membuka pintu. Keluar.

Seorang tetanggaku keluar dengan berpeci. Sejurus kemudian ia menghampiriku.

                “Bang, ada yang meninggal. Tetangga di samping rumah itu.” Ujarnya.
                “Siapa yang meninggal bang?” Tanyaku dengan penasaran.
                “Ibu di rumah itu Bang”.



Rumah Duka, 9.50 Pagi

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali."

Segala puji bagi Allah, atas tiap nafas dan waktu yang masih diberi. Sungguh masih jauh dari sempurna diri ini untuk menghadap Sang Ilahi. Penyia-nyiaan segala kesempatan di tiap detik kehidupan adalah kerugian tak terperi. Dunia ini akan pergi dan akhirat adalah keniscayaan abadi.

Aku masih terbilang baru di sini. Baru tiga bulan aku menempati rumah kontrakan ini. Belum banyak tetangga yang kukenal. Kesibukan kampus dan organisasi membuatku tak punya waktu banyak untuk bersosialisasi dengan tetangga. Maka, aku pun tak kenal siapa tetanggaku ini yang sedang berduka.

Ada pertemuan yang harus aku hadiri hari ini. Seharusnya aku sudah berangkat dari tadi. Akan tetapi, kusempatkan dulu untuk berkunjung. Melarutkan rasa dalam empati kehilangan. Andai aku tidak harus berangkat sekarang, ingin rasanya turut melaksanakan fardhu kifayah.

Ya, Allah. Ampunilah dosanya dan terimalah segala amal ibadahnya.


Rumah Cahaya, 10.25 Pagi

                Ku tak selalu berdiri
                Terkadang hidup memilukan
                Jalan yang kulalui
                Untuk sekadar bercerita

Hidup ini cerita. Tiap detik kehidupan adalah cerita. Semua cerita linier dengan masa. Ia bisa ke depan, atau kembali untuk melihat kilas masa lalu tertinggal. Namun, butuh hati yang terbuka untuk bercerita. Hati yang penuh tujuan dan ketulusan.

Aku di sini untuk itu.

Kupikir aku terlambat. Ternyata, pemateri pun belum terlihat. Baguslah, aku bisa mengikuti pertemuan ini tanpa ada momen yang terlewat.

Ys. Rat. Belum pernah aku mengenalnya atau mendengar namanya. Namun caranya menyampaikan materi menarik perhatianku. Ia benar-benar bercerita. Hal ini yang membuatku percaya bahwa ia memang sastrawan.

Ia melompat dari satu topik ke topik lain, tetapi tetap integral dengan tema hari ini :  cerita pendek. Menurutnya, hal yang paling mendasar untuk menulis cerpen adalah, kemampuan bercerita. Lalu, bercerita yang seperti apa?

Bercerita bukanlah sekadar bercerita. Ada nilai-nilai yang harus disampaikan. Cerita seyogyanya punya makna. Cerita bukanlah estetika belaka tanpa logika dan etika.

berceritalah dengan bahasa yang baik dan benar, sesuai karakter yang dibawakan. Andaikata dalam suatu cerita tentang tindak kejahatan yang dilakukan preman, ada dua kalimat ...

                “Saya bunuh ya Anda!”

                “Kubunuh kau !”

Rasakan sendiri perbedaannya. 


Rumah Candradimuka UMN, 16.00 Pagi

                Apa yang terjadi dengan hatiku
                Kumasih di sini
                Menunggu pagi

                Seakan letih tak menggangguku
                Kumasih terjaga

                Menunggu Kang Abik



Habiburrahman El-Shirazy. Saat mendengar nama beliau, yang terbayang olehku adalah Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta, dan Cinta Suci Zahrana. Semua tentang cinta, cinta, dan cinta. Belum pernah bertatap muka, tetapi aku banyak mengenal beliau lewat mahakaryanya yang kaya cinta.  

Awalnya, pertemuan direncanakan pukul tiga. Yang namanya rencana tak selalu berbuah nyata. Kang Abik masih sibuk mengisi acara ternyata.  Di sebuah ruangan kantor nan elok, kita menantinya. Hingga akhirnya sekitar pukul lima, yang dinanti pun tiba. Angin bertiup sepoi-sepoi. Burung-burung pun berkicau ria. Semburat kemilau cahaya menerpa. Siluet tercipta. Semerbak kesturi mengaroma. Dan tiba-tiba terdengar irama...

              
Ketika Cinta bertasbih

Nadiku berdenyut merdu

Kembang kempis dadaku

merangkai butir cinta


Garis tangan tergambar

tak bisa aku menentang

Sujud sukur padamu
atas segala cinta


            Syair lagu itulah yang pertama kali terngiang di telingaku saat melihatnya. Wajah beliau teduh meski seharian sibuk mengisi acara. Tak ada gurat lelah pada wajahnya. Dengan ramah beliau menjabat tangan kita. Uluk salam terdengar lembut dan indah, “Assalamualaikum...”

                Bincang-bincang pun dimulai. Beliau bercerita bahwa awal karier menulisnya adalah sebagai penerjemah. Beliau bekerja sama dengan penerbit-penerbit Indonesia untuk menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa ilmu pengetahuan. Alquran berbahasa Arab. Islam identik dengan Bahasa Arab. Maka, sangat esensial bagi penulis untuk bisa memahami Bahasa Arab.

                Menjadi penulis tidak akan pernah lepas dari yang namanya kritik. Akan tetapi, biarlah itu jadi pekerjaan kritikus, tanpa perlu kita yang urus. Bukan berati mengabaikan kritik, hanya saja jangan sampai kritik itu jadi melemahkan. Seharusnya, semakin banyak dikritik, semakin tajam pula pena kita.

                Jodoh dinanti dan dicari. Namun tak satupun manusia tahu siapa jodohnya nanti. Tetaplah berharap dan menunggu dengan terus meningkatkan kualitas diri. Kang Abik berkata berharaplah jodoh yang terbaik dari Allah, bukan memaksa Allah memberikan jodoh yang sesuai keinginan kita. Dan sekarang aku bingung, dari menulis kenapa tiba-tiba jadi bahas soal jodoh?

                  Menurutku, menulis dan jodoh itu punya satu kesamaan. Keduanya sama-sama berkesan. Kesan yang mengandung makna yang sama : kebahagiaan. Tentang kesan yang membahagiakan, Kang Abik juga punya cerita. Hal yang paling berkesan bagi beliau selama menulis adalah ketika tulisannya itu selesai. Benar-benar melegakan, katanya. Lalu, saat tulisan itu disebar dan dibaca orang, terasa benar-benar membanggakan. Apalagi, jika sampai dibukukan, betapa luar biasa bahagia. Dan tiba-tiba rezeki Allah datang melalui rekening bank. Sungguh syukur yang tak terkirakan.

                Di akhir pertemuan, kita mencoba mencipta keabadian : berfoto bersama. Dengan baik hati beliau berkenan berfoto meski waktu mengejarnya. Tak lelah ia melayani hasrat para ikhwan dan akhwat yang ingin tanda tangannya. Senyuman pun terus menghiasi wajahnya. Semoga karya-karyamu selalu menginspirasi dan mendunia, kang Abik. Dan semoga ridho dan rahmat Allah selalu menyertai di setiap langkahmu. Aamiin.
   



Prinsip

          

       Sudah beberapa kali Karin mendengar bahwa surat kabar tempatnya bekerja akan tutup.  Gaji karyawan, termasuk wartawan, dipotong dengan alasan efisiensi. Gaji yang sudah kecil itu pun kian tak ada artinya lagi. Apalagi, sekarang harga-harga kebutuhan pokok terus meninggi. Padahal, pekerjaan mereka sungguh berisiko. Mereka kerap harus berhadapan dengan hukum, teror, bahkan maut.

         Sejumlah rekannya juga sudah mulai hengkang, berburu pekerjaan lain. Akan tetapi,  ia mencoba untuk tetap bertahan menikmati sisa-sisa harapan. Terus meliput, mewawancarai, dan menulis berita. Karin menikmati pekerjaan itu.

         Dalam hati kecilnya, Karin juga ingin punya pekerjaan dengan penghasilan memadai. Sebenarnya pekerjaan ini tak sejalan dengan latar pendidikannya di jurusan Psikologi. Kesukaannya menulislah yang mengantarkannya pada pekerjaan ini.  Mungkin, jilbab-jilbab besar dan gamis gombor tua itulah yang membuatnya bisa bertahan dengan gaji pas-pasan. Ia tak perlu ke salon rambut, atau membeli jilbab-jilbab dengan gaya yang lagi nge-trend. Cukuplah baju-baju tua itu. Baginya yang penting sopan dan nyaman.

           Sampai suatu hari sahabatnya, Rika, bertandang ke kosannya. Rika sahabat Karin sejak semester satu di fakultas psikologi. Gaya hidup Rika berubah drastis sejak ia bekerja di sebuah perusahaan swasta asing di Medan. Makan di restoran mahal, belanja di Mall, nonton bioskop, ikut paket kecantikan di salon, adalah hal-hal yang lumrah bagi Rika.

                Rika menawari karin sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan swasta asing tempat Rika bekerja. Posisi kepala HRD, yang cukup sesuai dengan pendidikan Karin. Gajinya pun lumayan besar.

     Pada awalnya Karin menolak karena ia menyukai pekerjaannya sekarang. Akan tetapi, Rika terus mendorong Karin untuk meninggalkan koran yang bagi Rika tak lagi punya masa depan.

 “It’s okay kalau koran tempat kau bekerja bonafid dan gajimu besar. Tapi kau bekerja di surat kabar yang nyaris gulung tikar !” Ujar Rika berapi-api.

                Benar juga kata Rika, pikir Karin. Akan jadi apa masa depannya jika terus bertahan pada kondisi seperti ini. Karin harus move up.

***
                Karin dan Rika menaiki taksi menuju salah satu pusat perkantoran di Medan. Selama perjalanan, Rika tampak gelisah. Tampaknya ia mengkhawatirkan penampilan Karin dengan jilbab gombornya.

                “Kau kurang rapi, Rin. Seharusnya kau pakai blazer atau jas seperti orang kantoran, bukan baju gombor kayak gini.”
                “Tapi aku nyaman seperti ini. Lagipula, pakaian seperti ini yang sesuai syariat”
                “Yang akan kau hadapi nanti adalah sesorang yang tak terlalu suka dengan jilbab.”
                “Hmm...Begitu ya, hahaha.”
                “Kok ketawa, ini serius, Rin.”
                “Udah deh, tenang aja.”

                Karin tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman dan wangi. Seorang pria dengan gaya parlente mempersilakannya masuk dan duduk. Lantas, karin menyerahkan berkas-berkas lamaran kerja.

                Pria itu memperkenalkan diri. Karin hanya menangkupkan kedua tangan saat ia hendak menyalami Karin. Alis matanya naik. Ia sedikit terkejut, namun sedetik kemudian kembali tersenyum. Karin pun tersenyum simpul, menyembunyikan ketidaknyamanannya berduaan di ruangan itu.

                Sejauh ini, semua pertanyaan bisa dijawab Karin dengan cemerlang. Namun, tiba-tiba pria itu mengajukan pertanyaan di luar dugaan Karin.

                “Apakah Anda bersedia melepaskan pakaian itu saat bekerja di sini?” Tanya pria itu datar sambil menunjuk jilbab gombor yang dikenakan Karin.
                “Kenapa, Pak? Apa saya tidak boleh melaksanakan ajaran agama saya. Bukankah undang-undang mengatakan bahwa setiap warga negara bebas menjalankan agamanya masing-masing?” Karin bertanya balik.
                “Anda sangat berpotensi. Gaji besar bisa Anda dapatkan di sini. Tapi hanya pegawai rendahan saja yang boleh mengenakan pakaian itu di sini. Bagaimana, Anda bersedia?”

                Karin berpikir sejenak. Meski ilmu agamanya belum terlalu dalam, Ia tahu memakai ini adalah perintah-Nya. Akan tetapi, terbayang lagi olehnya kos-kosannya yang kumuh dan hutang-hutangnya. Belum lagi, tunggakan kos yang sudah dua bulan. Ia butuh pekerjaan.

                “Sebenarnya, saya sangat tertarik dengan pekerjaan ini. Saya hanya seorang wartawan miskin yang bekerja di koran yang hampir bangkrut. Secara finansial, pekerjaan ini sangat menjanjikan. Namun, pakaian ini adalah perintah Tuhan yang menjadi prinsip saya, bagian dari kehidupan saya. Maaf, tidak mungkin saya melepaskannya.”

                “Anda yakin?”
                “Ya.”
                “Kalau begitu, terima kasih telah berkesempatan untuk wawancara. Mudah-mudahan Anda memperoleh pekerjaan di tempat lain yang sesuai prinsip Anda.”

                Karin pamit. Ia lega, bisa mempertahankan apa yang selama ini ia pegang. Namun, terbayang lagi olehnya korannya yang hampir tutup, kos-kosan kumuh, hutang-hutang, dan jilbab-jilbab gombor tuanya. 

Melewati Batasku



Izinkan aku memilihmu
sesaat sebelum kau menjawab diam 
dan kulum senyummu
menabur bintang di atas megaku

Biarkan aku menyandingmu   
Sesaat sebelum kau menyaput waktu
dan rasa yang berkejaran
memutus benang merah hidupku

Luruskan aku untuk memuliakanmu
sesaat sebelum kau menyemai rindu
dan bening wajahmu
membuatku mengutuk diri jika meninggalkanmu.

Serdang Bedagai, Desember 2012