Selasa, 29 Januari 2013

Cintai Hidup, Cintai Air Putih




Judul       :   Basmi Seabrek Penyakit Hanya Dengan Air Putih
Penulis   :    Angga Putra Permana
Penerbit  :   Flash Books
Cetakan  :   I, 2011
Tebal       :   142 Halaman


Air adalah salah satu nikmat Tuhan yang paling indah dan menakjubkan. Air mendukung proses kehidupan sehingga dapat berlangsung dengan semestinya. Semua makhluk hidup baik tumbuhan, hewan, terlebih manusia membutuhkan air untuk bertahan hidup. Tubuh manusia sendiri sebagian besar tersusun oleh komponen air, yakni sekitar 70 persen. Komponen air tersebut berfungsi mendukung berbagai proses fisiologis di dalam tubuh. Manusia dapat bertahan hidup tanpa asupan makanan selama 5-7 hari, tetapi manusia akan mati bila selama 3 hari saja tidak kemasukan air (minum) sama sekali.

Ada banyak sekali manfaat yang terkandung di dalam air putih. Akan tetapi, belum banyak yang menyadari khasiat air putih dalam upaya pennyembuhan berbagai penyakit dan pembugaran tubuh. Buku ini mencoba memperkenalkan secara lebih dekat kepada pembaca berbagai manfaat dan khasiat tersebut. Selain itu, dipaparkan juga teknik-teknik yang mudah dan praktis untuk mengobati penyakit dengan air putih. Teknik-teknik tersebut dapat dilakukan melalui terapi air putih, baik dengan cara minum maupun mandi.

Salah satu penyakit yang dapat disembuhkan melalui terapi air putih adalah penyakit stroke. Stroke disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah ke otak sehingga terjadi kelumpuhan pada bagian tubuh. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian terbesar saat ini. Penderitanya bukan orang-orang berusia lanjut saja, melainkan juga orang-orang muda pada usia produktif. Dalam salah satu bab di buku ini dijelaskan secara ringkas dan pratis teknik pengobatan stroke dengan metode Hydrotherapy atau terapi air hangat di dalam kolam. Air hangat berpengaruh baik bagi kelancaran sirkulasi darah ke otak.

Hal yang cukup menarik dari buku yang sekarang sedang berada pada proses Road to Best Seller ini adalah adanya ruang khusus di setiap bab. Ruang khusus ini berisi informasi-informasi penting seputar air putih yang dapat memperluas wawasan pembaca. Salah satu informasi tersebut adalah bahwa selain dapat menghilangkan kotoran-kotoran dalam tubuh dengan cepat melalui air seni, air putih hangat juga bermanfaat menurunkan berat badan. Caranya dengan meminumnya sebelum makan.

Pada bab yang berjudul Berbagai Keajaiban yang Terkadung di dalam Air, Angga mengajak kita untuk mengupas rahasia menakjubkan dari air putih. Ternyata, air putih dapat merespon kata-kata. Berdasarkan penelitian ilmuwan Jepang Massaro Emoto di dalam bukunya yang berjudul The True Power of Water (yang juga menjadi acuan buku ini), air putih akan membentuk kristal-kristal indah besegi enam jika diperdengarkan padanya kata “Cinta”. Namun, jika yang yang diperdengarkan adalah kata “Bodoh”, maka kristal-kristal tersebut tidak akan terbentuk. Terbentuknya kristal-kristal bersegi enam itu merupakan suatu respon positif air putih terhadap kata-kata bermakna positif.

Buku yang berjudul Basmi Seabrek Penyakit Hanya dengan Air Putih ini disajikan dalam bahasa sederhana yang ringkas dan mudah dimengerti. Walaupun termasuk dalam golongan buku-buku kesehatan, Angga tidak banyak memasukkan istilah-istilah ilmiah asing ataupun istilah kedokteran yang sulit dipahami oleh orang awam. Teknik-teknik penyembuhan dengan air putih dipaparkan secara ringkas dan praktis sehingga diharapkan dapat mudah diterapkan oleh pembaca dari berbagai kalangan. Hanya saja, pemaparan yang sudah cukup bagus tersebut tidak diimbangi dengan visualisasi yang memadai karena tidak ada satu pun gambar penjelas yang dapat kita temukan di dalam  buku ini. Meskipun demikian, uraian sederhana dan ringkas tersebut sudah cukup memenuhi tujuan praktis buku ini untuk menyampaikan kepada pembaca mengenai segudang manfaat air putih dan teknik-teknik penyembuhan menggunakan air putih.


Cita dan Cinta Zahrana


Judul       :    Cinta Suci Zahrana
Penulis    :    Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit  :     Ihwah Publishing House
Cetakan  :     I, 2011
Tebal       :     V + 204 halaman



          “Tuntaskan sekolahmu. Sekolah setinggi-tingginya ya Nak, agar hidupmu tidak hina!”. Itulah pesan ibu yang begitu dalam tertancap dalam jiwa Zahrana. Kata-kata itu mendorongnya untuk terus belajar, belajar, belajar. Begitu tinggi cita-citanya untuk mengangkat martabat keluarga. Ia berharap bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Akan tetapi, segudang prestasi yang diraihnya belumlah cukup untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ada satu hal yang masih ditundanya : menikah.

            Sebenarnya, sudah banyak laki-laki datang meminang Zahrana. Namun, tidak ada satu pun yang pas di hatinya. Saat orang tuanya sendiri menawarinya seorang pemuda yang siap menikah, ia menolak dengan alasan ingin fokus kuliah S2. Padahal, pemuda tersebut mau menemaninya kuliah. Bahkan, sahabat karibnya, Lina, juga mencoba menjodohkannya dengan seorang pemuda yang hanif bernama Andi. Akan tetapi, lagi-lagi Zahrana menolak dengan alasan ingin menyelesaikan kuliah S2-nya dulu. Meski Lina sudah meyainkan bahwa Andi bisa memahami kesibukannya, Ia tetap saja pada prinsipnya. Akhirnya, Linalah yang menikah dengan Andi.

                Kini usianya sudah beranjak 34 tahun. Profesinya sebagai dosen yang penuh prestasi membuatnya begitu “tinggi” di mata lelaki. Ia mawas diri bahwa seharusnya ia bisa lebih rendah hati. Hingga ujian yang dilematis pun menghampirinya. Dekan Fakultas tempatnya mengajar, Pak Sukarman, berniat meminangnya. Melalui Bu Merlin, Pembantu Dekan II, Pak Sukarman menyampaikan hal tersebut pada orang tua Zahrana.

                Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pak Sukarman punya moral yang rendah walau  ia berpendidikan dan bergelar haji. Tentu saja Zahrana tidak bisa menerimanya. Akan tetapi, orang tuanya begitu antusias dengan lamaran Pak Sukarman meski mereka menyerahkan semua pada Zahrana. Apalagi, Pak Sukarman berjanji akan menghajikan orang tua Zahrana. Di satu sisi, Zahrana tidak mau mengecewakan orang tuanya yang sudah begitu lama merindukan cucu. Di sisi lain, akal sehatnya benar-benar tidak bisa memaafkan tingkah laku Pak Sukarman yang genit dan suka main perempuan.

        Sukses secara akademik ternyata tidak sepenuhnya membuat Zahrana sukses dalam kehidupan pribadi, terutama percintaan. Kini ia hanya berharap memperoleh jodoh lelaki yang soleh. Ia tidak lagi memandang kedudukan sosial dan pendidikan.

          Zahrana pun meminta bantuan Ummi Dah, istri dari pengasuh utama pesantren tempat ia mengajar. Ia dikenalkan dengan Rahmad, seorang duda penjual kerupuk. Kali ini ia mantap karena Rahmad dikenal sebagai lelaki yang saleh dan baik agamanya meski pendidikannya lebih rendah daripada Zahrana. Namun, takdir Allah berbicara lain. Rahmad meninggal dunia. Lelaki itu tertabrak kereta api pada malam sebelum hari H akad nikah.Tidak sampai di situ saja. Ujian yang lebih berat pun datang. Tidak beberapa lama setelah itu, Ayah Zahrana pun meninggal dunia. Kejadian itu membuat Zahrana sangat tertekan. Namun Ia berusaha tetap tegar dan berharap yang terbaik dari Allah, termasuk jodoh yang terbaik baginya.

         Untuk kesekian kalinya, Habiburrahman El-Shirazy menelurkan karyanya yang fenomenal. Novelis peraih penghargaan Sastra Nusantara Asia Tenggara 2008 ini menyajikan jalan cerita menarik dan tidak mudah ditebak. Alurnya menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca. Tema yang dibawakan pun masih tidak jauh dari novel-novel sebelumnya : cinta suci dan pernikahan. Seperti halnya novel Ketika Cinta Bertasbih, Kang Abik juga mengedepankan sosok muslimah yang cerdas dan salihah. Novel ini juga telah difilmkan dan dirilis 15 Agustus 2012 silam.

              Novel ini sangat pas dikonsumsi oleh mereka yang sedang merindukan belahan jiwa. Menikah adalah sunnah yang harus disikapi dengan bijaksana. Tidak salah jika mengharapkan jodoh yang secara mendetail sesuai keinginan. Akan tetapi, yang utama adalah mengharapkan belahan jiwa yang salih dan memiliki kredibilitas agama yang baik. Sebuah novel pembangun jiwa yang sangat menginspirasi.


Resensi Buku : Cicak Versus Buaya Dalam Bingkai Cerita



Cicak Versus Buaya Dalam Bingkai Cerita       

Judul                :           KPK vs Polri : Mengungkap Fakta Mengejutkan
yang Belum Terekspos Media
Penulis             :           Budi Setyarso
Penyunting      :           Richanadia
Penerbit           :           Noura Books (PT Mizan Publika)
Cetakan           :           I, Desember 2012
Tebal               :           xvi + 206 hlm.


            Beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan Juli, masyarakat dihebohkan dengan mencuatnya konflik antara dua penegak hukum : KPK dan Polri. Konflik ini memanas setelah ditetapkannya Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka kasus pengadaan simulator SIM di Korps Lalu Lintas Polri. Masing-masing lembaga merasa berhak mengusut kasus tersebut. Berita tentang tarik ulur perkara pun saban hari menjadi santapan publik.

            Peristiwa 5 Oktober 2012 merupakan klimaks dari kemelut tersebut. Gedung KPK di Kuningan “dikepung” ratusan personil polisi. Tujuan mereka adalah menangkap salah satu penyidik KPK : Komisaris Polisi Novel Baswedan. Ia dituding bersalah atas kasus penembakan pencuri sarang burung walet ketika masih menjadi Kepala Satuan Reserse  Kriminal kota Bengkulu sewindu yang lalu. Kompol Novel Baswedan merupakan orang yang berada di garis depan penyidikan kasus simulator SIM.

            Berbagai upaya pelemahan mengancam KPK. Mulai dari rencana revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, penangguhan dana anggaran pembangunan gedung KPK, hingga upaya penangkapan Kompol Novel Baswedan yang disinyalir sebagai bentuk kriminalisasi. Akibat revisi tersebut, beberapa kewenangan penting KPK terancam hilang. Padahal, seperti yang ada di halaman 163 buku ini, selama sewindu sejak 2004 KPK telah melakukan 480 penyelidikan, 278 penyidikan, dan 222 penuntutan. Dengan kinerja seperti itu, wajar jika banyak yang terus berusaha menghambat laju KPK.

            Para pendukung KPK tidak tinggal diam. Ribuan “semut rangrang” berbondong-bondong ke gedung KPK, meneriakkan slogan “Save KPK, Bersihkan Polri”. Mereka mendukung KPK untuk segera menangkap Irjen Djoko Susilo. Dukungan datang dari berbagai kalangan : aktivis, mahasiswa dan pelajar, politisi, hingga musisi. Penggalangan dana bertajuk “Saweran Untuk Gedung KPK” turut digalakkan. Dukungan di dunia maya lewat jejaring sosial pun tidak kalah ramai. Tagar #PresidenKemana menjadi trending topic di Twitter. Publik menganggap presiden kurang responsif menanggapi konflik kedua lembaga.

            Bak sebuah novel, buku yang terdiri dari 15 bab ini menyajikan data dan fakta yang dibingkai cerita. Alurnya dinamis dan melompat maju mundur. Pembaca akan disuguhkan informasi-informasi rinci yang belum banyak diungkap media. Kronologis kasus dijabarkan dalam berbagai sudut pandang. Setiap tokoh dalam di dalam buku ini memiliki karakter-karakter tersendiri. Konflik yang muncul menimbulkan ketegangan yang menarik pembaca larut dalam cerita. Katastrofe cerita pun berakhir dengan kehadiran presiden yang telah lama dinanti sebagai penengah antara KPK dan Polri.

Sebagian besar tulisan di buku ini merupakan hasil liputan Budi Setyarso dan kawan-kawan. Beberapa petikan wawancara dan data di buku ini juga dikutip dari laporan panjang di Majalah Tempo dan Koran Tempo. Namun, lompatan adegan yang disajikan masih cenderung kaku sehingga berpotensi menjenuhkan pembaca. Di sisi lain, terdapat juga kesalahan pengetikan nama tokoh. Seperti di halaman 127, tertera nama Nunung yang seharusnya Nunun karena merujuk ke nama Nunun Nurbaeti. Beberapa kesalahan cetak juga terjadi, yang menyebabkan nomor halaman 162, 163, 174, dan 175 menjadi hilang.

Meski demikian, buku yang ditulis oleh jurnalis peraih penghargaan Anugerah Adiwarta 2007 dan Mochtar Lubis Award 2009 ini dapat membawa arti penting tentang betapa berbahayanya dampak tindakan korupsi. Kepedulian dan kesadaran masyarakat akan bahaya laten tindak korupsi mutlak diperlukan. Metafora “Cicak Versus Buaya” dan “Rangrang Versus Buaya” yang hadir dalam buku ini menjadi persuasi tersendiri yang menjadi motor pergerakan antikorupsi.  

Buku ini sangat cocok dibaca oleh kalangan jurnalis, mahasiswa ilmu sosial-politik, politisi, akademisi, dan aktivis pergerakan antikorupsi. Gaya tulisan di buku ini mengarah ke Jurnalisme Sastrawi, yang menambah khazanah wawasan para peminat dan pegiat bidang jurnalistik. Buku ini juga dapat dibaca oleh siapa saja yang peduli terhadap gerakan melawan korupsi di tanah air.   

Resensi ini terbit di Harian Analisa Medan edisi Rabu 16 Januari 2013